Turunkan Gaya Hidup Sebelum Kamu Hancur

Mereka para pekerja pemula seringkali terjebak pada satu anggapan yang tidak tepat. Dimana gaya hidup adalah segalanya. Sebelum terlambat ada baiknya segera turunkan gaya hidup daripada terlihat wah di luar tapi keropos di dalam.

turunkan gaya hidup
pixabay.com

Fakta ini dengan mudah kita lihat tentunya dimana apa yang dibeli adalah hal-hal yang sifatnya bukan pada fungsi tapi lebih pada gengsi. Contoh konkrit, karyawan dengan upah UMR bisa membeli iPhone 11 yang mana harganya paling murah bisa diangka Rp 11 jutaan.


Ketika ditanya bagaimana cara membeli dengan enteng akan dikatakan kredit selama 12 bulan. Dikatakan salah hal ini tentu tidak salah, hanya saja kurang tepat.


Lebih menarik lagi ternyata ia tidak tahu tentang sejumlah fitur yang ada di dalamnya. Paling penting adalah bisa untuk telpon, whatsapp dan main sosial media. Satu produk yang tentu bisa juga di dapat pada smartphone diangka Rp 2 jutaan tentunya.

Baca juga: 8 Motovasi yang Bikin Kamu Sukses


Sesat Pikir Gaya Hidup


Sesat pikir ini adalah momok yang paling ditakuti para akademisi. Hal ini karena akan menyebabkan seseorang salah dalam mengambil langkah berikutnya.


Menjadi penting kemudian bagi siapa saja untuk tahu betul apa yang dibutuhkan pada masa itu. Sesuatu yang bisa mendukung karir dan pekerjaan bukan menuruti gengsi.


Beberapa hal yang membuat seseorang sesat pikir atau salah dalam mempersepsi antara lain:


1. Lebih Besar, Lebih Baru itu Lebih Baik


Seringkali dalam kehidupan sehari-hari apa yang lebuh besar dan lebih baru itu adalah sesuatu yang lebih baik. Padahal belum tentu demikian.


Terlebih bila hal-hal itu didapat dengan cara dipaksakan. Yang ada kemudian adalah boncos dimana-mana. Apalagi bagi mereka yang suka membuka sosial media dimana dalam ruang itu satu sama lain saling adu gengsi.


Apa yang mereka tampakkan itu bisa jadi bukan suatu kebenaran. Dalam bahasa sederhana itu semua hanyalah pencitraan.


Hampir bisa dipastikan secara tidak sengaja seseorang bisa saja melakukan hal demikian. Contoh, ketika seseorang naik motor atau mobil harga ratusan juga dan yang nampak hanyak 1 frame foto tanpa keterangan.


Asumsi yang muncul kemudian bisa macam-macam karena tiap orang bisa mempersepsi dengan cara yang berbeda-beda. Terlebih latar belakang mereka yang melihat juga beda-beda maka bisa dipastikan apa yang diterima juga berbeda-beda pula.


2. Korban Tren


Kalau diatas adalah apa kata masyarakat atau orang kebanyakan maka selanjutnya adalah apa kata media sosial. Dimana pasar akan menciptakan tren tiap saat dan tugas para marketing adalah merubah mindset dari apa yang tidak perlu menjadi perlu.


Padahal bila dicermati tidak perlu menunggu satu minggu setiap merek akan mengeluarkan produk baru. Mencoba mengikuti mereka sama saya dengan menggali lubang kubur sendiri. 


Yang ada kemudian semua pendapatan akan habis hanya untuk membeli sesuatu yang sebenarnya tidak perlu. Seringkali satu produk itu berubah bukan pada fitur utama dan mereka hanya memainkan pada bungkusnya saja.


Orang yang terkecoh sudah pasti ia yang akan merugi. Selama hidup akan diperbudak dengan hal-hal yang tidak perlu-perlu amat.


Saatnya Turunkan Gaya Hidup


Sebelum melangkah lebih jauh dan hancur maka kini ada baiknya untuk segera turunkan gaya hidup dengan berpikir kritis dan jauh ke depan. Bila belum bisa membeli produk bermerek ada baiknya beli produk serupa yang lebih menitikberatkan pada fungsi.


Tidak usah malu karena seringkali kita akan terjebak pada sesuatu yang tidak perlu. Tak mau bukan, kamu berangkat ke kantor menggunakan mobil tapi mau beli pertalite saja kebingungan.


Agar tidak terjebak pada gaya hidup maka ada baiknya segera lakukan beberapa langkah sederhana. Tujuannya untuk memastikan kamu tetap akan bahagia dengan cara yang hakiki bukan kepalsuan.


Cara mudah yang bisa dilakukan


1. Bikin Skala Prioritas


Sejak awal tetapkan skala prioritas yang harus dimiliki. Semisal menabung untuk membangun rumah atau bisa jadi membantu ekonomi orang tua dengan menyekolahkan adik.


Skala prioritas ini akan membantu kita untuk tetap fokus pada jalan dipilih sehingga tidak goyah di tengah jalan. Jangan lupa tentukan waktunya supaya bisa lanjut ke tahap selanjutnya. 


2. Mulai Investasi


Muda bukan berarti foya-foya dan harus mulai belajar investasi. Tak harus yang besar tapi mulai yang kecil pun bisa.


Kini telah banyak cara investasi, bahkan dengan modal puluhan ribu atau ratusan ribu pun telah bisa. Salah satunya bisa jadi dengan reksadana atau sejenisnya.


3. Optimalkan Apa Yang Ada 


Barang yang kita miliki boleh saja berusia tua dan usang. Tapi selama masih bisa digunakan dengan baik sangat disarankan untuk tetap dipakai.


Terlebih bila hanya ingin mengganti hanya karena alasan usia kini bukan zamannya lagi. Bila kamu bisa melakukan ini maka setidaknya bumi juga akan terbantu karena sampah bisa ditahan.


Ingat gaya hidup itu sifatnya laten dan setiap orang bisa jadi tidak menyadari menjadi pelaku aktif. Sangat sayang bukan kalau kita hanya menghambur-hamburkan uang untuk hal-hal yang tidak penting.


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama