6 Alasan Kenapa Harus Kerja Totalitas

Bagi mereka yang telah bekerja mungkin akan bisa saling melihat seberapa besar effort atau kerja totalitas yang diberikan untuk perusahaan. Bukan hanya effort yang ada dalam diri pribadi tapi juga effort rekan kerja yang ada di sebelahnya.

kerja totalitas
pexels.com
Mungkin ada yang kerja mati-matian tapi gitu-gitu aja. Tapi ada juga yang terlihat santai atau cenderung seenaknya sendiri justru karirnya moncer.

Saya pribadi tentu mewakili diri sendiri dan tentunya perusahaan ingin menyampaikan kerja totalitas itu perlu dan harus. Bukan untuk perusahaan tapi untuk diri karyawan masing-masing.

Sebagai gambaran paling mudah mungkin kita akan melihat Neymar Jr. Meski pada akhirnya tim yang ia bela kalah tapi tetap akan berjuang hingga titik darah penghabisan.

Kerja Totalitas itu Bikin Hepi atau Bonyok


Bagi saya totalitas itu adalah memberikan yang terbaik apa yang kita miliki. Bila jam kerja kita itu dari jam 08.00 WIB hingga 17.00 WIB maka selama waktu tersebut saya benar-benar akan mencurahkan pikiran dan tenaga untuk perusahaan yang telah menggaji saya.


Kalau ada yang melihat saya kerja hingga larut dan tidak dihitung lembur itu lebih pada tanggung jawab. Ada hal yang harusnya selesai tapi tidak kunjung selesai dan pada akhirnya sadar diri harus tambah jam kerja.


Kerja totalitas ini tidak saja berlaku bagi karyawan. Pun demikian bagi individu-individu yang menjadi pelaku wirausaha atau freelancer pun harus kerja totalitas bila tak ingin menyesal kelak.


Lebih terperinci berikut alasan kenapa kita harus kerja totalitas:


1. Kerja itu Bikin Bahagia


Bagi saya pribadi kerja itu bikin bahagia karena apa yang menjadi kesukaan kita ada yang memfasilitasi. Coba kalau saya tidak menjadi seorang HRD mana mungkin bisa setiap saat ketemu orang baru. Bisa keliling Indonesia gratis dari ujung ke ujung.


Mungkin bila ada yang tidak bahagia dengan apa yang dikerjakan bisa jadi karena belum tahu betul passion ada dimana. Atau bisa jadi salah jurusan yang mana kerja lebih pada menukar waktu dengan sejumlah rupiah.


Lain dengan mereka yang senantiasa bekerja dengan hati. Berapapun nilai nominal di dapat tidak akan menjadi masalah karena lebih penting adalah kerja itu bikin bahagia.


2. Kerja itu Menjadikan kita Manusia Seutuhnya


Ingat kata Buya Hamka, kalau kerja sekadar kerja monyet juga bekerja tapi yang membedakan manusia dengan yang lainnya tentu saja karena ada anugerah berupa hati dan akal pikiran. 


Tak mau bukan bila kerja itu hanya sekadar ritus yang sifatnya monoton. Harus ada perbaikan dari hari ke hari. Harus memiliki komitmen hari ini harus lebih baik daripada hari kemarin dan hari esok harus lebih baik daripada hari ini.


Dengan bekerja seseorang juga bisa beribadah dan lebih dekat dengan Tuhan. Berkat pekerjaan seseorang bisa saling membantu dan tolong menolong kepada sesama.  


3. Kerja itu Kejar Karir


Satu level dibawah kerja itu adalah ibadah tentu saja kerja itu kejar karir. Satu kondisi yang tak terelakkan sebagai mahluk ekonomi dan sosial maka karir sudah menjadi tuntutan.


Kerja tanpa karir akan membuat stagnan dan bertanya apa lagi yang akan saya kejar. Lain dengan adanya karir. 


Boleh jadi saat ini menjabat sebagai staf tapi 2 tahun lagi haruslah menjadi seorang supervisor dan 5 tahun kemudian menjadi seorang manager. Meski seringkali karir ini tidak linear dengan pendapatan tapi tetap layak dikejar.


4. Kerja itu Ajang Pembuktian Diri


Mungkin di sinetron sering kita mendengar seorang laki-laki ditolak karena tidak memiliki masa depan yang jelas. Setelah itu si laki-laki akan kerja keras mati-matian dan beberapa tahun kemudian sukses membuktikan bahwa ia layak dipilih.


Mungkin itu absurd tapi bisa terjadi di dunia nyata. Rasa sakit hati bila dikelola dengan baik akan menimbulkan energi positif. Menjaga dan terus memompa semangat hingga pada satu titik bisa sukses. 


5. Kerja itu Kejar Bonus


Konsep ini biasanya terjadi pada rekan-rekan marketing karena mereka yang identik dengan namanya bonus. Lain cerita dengan kawan-kawan di operasional. Bisa pulang tepat waktu tidak ada kendala saja sudah lebih dari cukup.


Bonus dalam dunia kerja pun bisa berbentuk macam-macam. Ada yang berbentuk uang, paket liburan hingga hadiah berupa barang.


6. Kerja itu Bikin Sejarah


Ada juga diantara kawan yang bekerja itu ingin membuat sejarah. Nampak konyol tapi benar adanya. Semisal bagi seorang recruiter, bila dalam satu bulan ada target 15 karyawan join dan bila bisa memasukkan 30 karyawan tentu menjadi sebuah sejarah baru.


Indikator sejarah ini pun ada sifatnya subjektif. Di sini yang menentukan target adalah individu karyawan dan ada target objektif bisa melampaui ekspektasi perusahaan.


Selain 6 alasan diatas bila ada hal lain yang ingin disampaikan bisa tulis dikolom komentar atau DM saya untuk saya tambahkan. 


Post a Comment

Lebih baru Lebih lama