Drama Kids Zaman Now dalam Dunia Kerja

Jujur sebagai seorang bagian dari tim Human Capital khususnya bagian rekrutmen saya itu merasa resah dengan kids zaman now. Dimana mereka memiliki kecenderungan mau kerja enak tanpa harus berproses.


kidz zaman now dalam dunia kerja
Unsplash

Fakta ini begitu mudah saya temukan dalam dunia kerja. Semisal baru lulus kuliah sudah menawar harga selangit padahal kompetensi belum ada.


Selain itu mungkin mereka menyanggupi apa yang ditawarkan perusahaan dengan nego-nego tertentu. Sesuatu yang pada zaman saya hal ini tidak terjadi.


Doktrin yang saya dapat sebagai sosok manusia adalah lakukan dan berikan yang terbaik dan buat mereka menyesal kehilangan. Artinya disini saya akan berupaya untuk memberi dan memberi.


Menyuapi dengan candu dan berharap memiliki posisi dan tak tergantikan. Setelah itu barulah kemudian melakukukan. Cara ini terbukti sangat efektif karena kompetensi kita akan meningkat dengan baik.


Baca juga: Turunkan Gaya Hidup Sebelum Kamu Hancur


Tantangan Kids Zaman Now


Tantangan ini sejatinya bukan hanya untuk mereka yang muda tapi juga bagi siapapun yang ingin turut andil mendewasakan kids zaman now supaya mereka tidak terjebak dalam dalam zona nyaman. Di mana saat ini pastinya kita berada di laut yang sama, hanya saja masing-masing memliki perahu atau kapal yang berbeda.


Besar kecil, kokoh atau tidak dikembalikan ke masing-masing individu. Bagaimana bersikap atas semua peristiwa yang terjadi agar tidak terperosok dalam palung yang kian dalam.

 

Bekerja bukan lagi pada orientasi untuk orang lain atau perusahaan tapi bekerja itu untuk diri sendiri. Bekerja itu harus bahagia dan bikin bahagia. 


Senantiasa libatkan hati dan pikiran yang jernih selama bekerja bukan asal selesai atau menggugurkan kewajiban perusahaan. Lebih dari itu bekerja itu adalah proses pendewasaan.


Mungkin benar saja, era digital dan prakmatisme menggeret siapapun untuk larut di dalamnya. Yang ada kemudian hanyalah sebatas transaksional. Apa yang saya berikan sesuai dengan apa yang saya dapat.


Namun alangkah lebih baik bila setiap individu mampu bekerja atau lebih tepatnya berkarya pada titik tertinggi. Dimana seseorang benar-benar beraktualisasi dengan cara yang tepat.


Mengasah kemampuan demi kemampuan untuk satu goal yang telah diset untuk jangka panjang. Ingat, mie instan pun bisa dimakan tetap dengan proses bukan benar-benar langsung bisa disantap.


Dan bila kamu termasuk Kids Zaman Now ada baiknya pikir ulang untuk lakukan hal ini:


1. Saya Minta Gaji Sekian Digit ya Pak


Tak salah memang seorang calon karyawan membahas tentang gaji atau upah. Namun demikian tetap ada etikanya. Terutama bagi mereka yang masih fresh graduete karena setiap perusahaan pastinya miliki standar pengupahan.


Nilai ini pastinya beda satu dengan yang lain tergantung dengan kompetensi dan pengalaman. Namun bila benar baru lulus kuliah ada baiknya bekerja untuk lebih menimba ilmu dan mencari pengalaman.


Saya pun yakin setiap perusahaan tak akan kehilangan talenta terbaik yang mereka miliki. Artinya seiring kemampuan bertambah pastinya akan diikuti benefit yang layak.


2. Jadilah Sosok yang Mandiri


Menjadi drama pula pastinya bila seorang calon karyawan menanyakan nanti saat saya bekerja ada yang temannya tidak. Bukankah setiap perusahaan ketika akan merekrut itu akan berhitung berapa banyak kebutuhan SDM pada posisi itu.


Jangan berharap dunia kerja seindah dunia kampus dimana semua pekerjaan bisa dibagi-bagi. Atau mungkin bagi mereka yang biasa membayar orang untuk mengerjakan tugas akan melakukan hal serupa.


Dunia kerja adalah dunia nyata dimana seseorang harus mampu menunjukkan kompetensi terbaik. Kalau tidak bisa ya bertanya, kalau kurang mahir ya berlatih.


Semua ada prosesnya tapi kemandirian adalah hal utama.


3. Attitude adalah Hal Utama


Mungkin akan susah mendefinisikan tapi bagi mereka yang sudah bekerja pastinya akan dengan mudah membedakan mana sosok yang miliki attitude baik dan mana yang kurang baik. Menjadi penting tentunya untuk kemudian menjaga sikap ini.


Sikap seseorang ini akan langsung terlihat manakala ada tekanan atau masalah muncul. Bisa dalam gestur, lisan atau tindakan dan pastinya akan menimbulkan rasa tidak nyaman diantara satu dengan yang lain.


Attitude dalam dunia kerja bisa dilatih dengan lebih bisa menerima sebuah perbedaan. Mencoba menahan diri bila ada hal yang kurang sesuai untuk kemudian dicari solusi paling tepat atau jitu.


Baca juga: 13 Persiapan Sebelum Masuk Dunia Kerja 


4. Proses Tidak akan Membohongi Hasil


Satu yang paling menonjol dari kids zaman now itu adalah adanya kecenderungan untuk segera mendapat hasil tanpa proses. Kalau pun ada proses pastinya mereka pilih yang paling cepat dan instan, kalau bisa potong kompas kenapa harus bertele-tele.


Proses menjadi sangat penting bagi anak muda karena akan memberi tahu bahwa sesuatu tidak terjadi seketika itu saja. Ada kerja keras dan keringat untuk sampai pada posisi itu.


Semoga saja ini bukan karena kegagalan pola asuh dimana para orang tua memiliki kecenderungan untuk memberikan lebih dari apa yang seharusnya. Dengan demikian anak-anak tak ubahnya disuapi dan kelak saat dewasa mereka memiliki kecenderungan tidak siap.


5. IPK Tinggi dan Cum Laude Bukan Jaminan


Masih saja ada mahasiswa yang memiliki kecenderungan kuliah itu yang menimba ilmu di kelas saja. Tak penting ikut organisasi atau kegiatan lain karena itu hanya buang waktu saja.


Hasilnya mungkin betul ada IPK tinggi atau lulus dalam waktu kurang dari 4 tahun. Namun sayang, fakta menunjukkan orang-orang seperti ini kurang siap dalam dunia kerja.


Mereka hanya tahu dunia idealisme, 1+1 = 2. Padahal dalam dunia kerja bukanlah seperti itu saja tapi dibutuhkan kreatifitas, inovasi, cara lain atau mungkin strategi untuk menyelesaikan masala yang ada.


Selain 5 drama kids zaman now dalam dunia kerja diatas pastinya kamu juga menemukan cerita atau keunikkan saat berada di tempat kerja.  

Post a Comment

Lebih baru Lebih lama